Home / Berita & Blog / BLOG PT SSE

Manusia dan Sampah

21 Des 2017 - 1185
Manusia dan Sampah

Jika kita mendengar kata sampah, pertama yang ada dipikiran kita adalah sesuatu hal yang kotor, berbau, seharusnya dibuang dan tidak berguna. Sampah memang tidak pernah lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Dalam satu hari, manusia pasti menghasilkan sampah, namun disini yang membedakan hanya banyaknya sampah yang dibuang oleh tiap-tiap individu. Perlu kita kaji dan kenali lebih jauh hal apa saja yang dapat dikategorikan sebagai sampah. Beberapa acuan sumber menyebutkan segala jenis hal dapat dikategorikan sebagai sampah jika merujuk ke hal-hal seperti berikut. Menurut World Health Organization (WHO) dalam Chandra (2006) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Jika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sampah adalah barang atau benda yg dibuang karena tidak terpakai lagi seperti kotoran, daun, dan kertas. Dalam bukunya, Sucipto (2012) menyebutkan bahwa sampah adalah bahan padat buangan dari kegiatan rumah tangga, pasar, perkantoran, rumah penginapan, hotel, rumah makan, industri, puingan bahan bangunan dan besi-besi tua bekas kendaraan bermotor. Sampah merupakan hasil sampingan dari aktivitas manusia yang sudah terpakai. Sedangkan menurut UU nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Jika disimpulkan, sampah adalah hasil dari aktivitas/kegiatan manusia yang dibuang dan terbuang dapat berupa barang atau benda yang tidak lagi terpakai dan belum memiliki nilai ekonomis.

Dari hal ini dapat kita lihat bahwa segala hal yang kita lakukan tetap menghasilkan sampah dengan volume yang berbeda. Menurut data dari Jenna R. Jambeck, et al (2015), dalam sehari masyarakat Indonesia menghasilkan sampah sebanyak 0,52 kg tiap orang. Sedangkan untuk sampah plastik sendiri, Indonesia menempati urutan kedua penghasil sampah plastik terbesar di dunia. Sucipto (2012), mengambil contoh jika setiap kota menghasilkan 0,50-0,65 kg per orang per hari, dengan kepadatan 200 kg/m3 maka sampah yang dihasilkan lebih dari 6000 ton setiap harinya atau setara dengan 25,687m3. Hal ini merupakan jumlah yang cukup besar melihat ketersediaan lahan juga semakin terbatas. Menurut data yang dirangkum oleh Kementrian Lingkungan Hidup, Indonesia menghasilkan sampah rumah tangga tak kurang dari 175.000 ton/hari. Sebagian besar sampah hanya menumpuk di tempat pembuangan akhir karena masyarakat belum mampu mengolahnya dengan benar. Padahal jika hanya memindahkan sampah dari rumah menuju pembuangan akhir tidak menyelesaikan masalah, hal ini malah menambah penumpukan sampah yang semakin banyak. Kementrian Lingkungan hidup juga merangkum pada tahun 2015 hampir 68% atau mayoritas mutu air sungai di 33 provinsi di Indonesia dalam status tercemar berat. Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK mengungkapkan sumber utama pencemar air sungai di Indonesia sebagian besar berasal dari limbah domestik atau rumah tangga. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2010 mengungkapkan, sebesar 26% atau 16 juta rumah tangga di Indonesia yang tidak memiliki fasilitas tempat buang air besar. Limbah tinja langsung dibuang ke lingkungan (sungai, kebun, dan lain-lain). Sedangkan sebanyak 74% rumah tangga menggunakan jamban, dan 14% di antaranya tidak dilengkapi dengan tangki septik. Setiap hari diperkirakan sebanyak 14.000 ton tinja dan 176.000 m3 urine di buang ke sumber air yang menyebabkan 75% sungai tercemar berat dan 70% air tanah di perkotaan tercemar bakteri tinja.

Salah satu fenomena yang sering ditemukan pada masyarakat dalam keterkaitan antara perilaku manusia dan lingkungan adalah kebiasaan membuang sampah. Kebiasaan membuang sampah khususnya ke sungai merupakan salah satu penyebab utama terjadinya polusi air sungai. Sejak kecil kita telah banyak dijejali informasi tentang bahaya sampah. Banyak informasi yang kita tangkap tentang sampah hanya merujuk pada pelarangan untuk tidak membuang sampah sembarangan serta anjuran untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan agar terhindar dari sampah. Namun pada kenyataannya hal tersebut belum sepenuhnya efektif. Perilaku manusia dalam membuang sampah menjadi pokok permasalahannya. Dewasa ini, muncul anggapan bahwa membuang sampah sembarangan adalah sesuatu yang wajar. Banyak orang melakukannya sehingga membuang sampah sembarangan saat ini telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Perlu di ingat juga, cara seorang manusia belajar yang paling mudah adalah dengan proses modeling/imitasi. Teori belajar modeling merupakan teori belajar yang dikemukan oleh Albert Bandura (1890), dimana modeling yang artinya meniru, yaitu proses belajar dengan mengamati, memperhatikan kemudian meniru perilaku dan tingkah laku orang lain yang ada disekitar kita. Hasil dari peniruan tersebut cenderung menyerupai bahkan sama perilakunya dengan orang tersebut. Lama kelamaan hal tersebut akan membentuk sebuah kebiasaan. Salah satu contohnya terbiasa untuk membuang sampah sembarangan karena melihat orang lain membuang sampah sembarangan. Pola ini akan terus terjadi jika seseorang kembali melihat orang lain melakukan hal yang sama dengan meyakinkan alam bawah sadar bahwa itu adalah sesuatu yang wajar.

Perilaku manusia yang kurang bertanggung jawab terhadap sampah dapat menyebabkan munculnya masalah lingkungan. Manusia memiliki kecenderungan untuk melakukan sesuatu atas dasar kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan kepentingan umum. Misalnya perilaku masyarakat konsumtif. Masyarakat konsumtif cenderung untuk membeli barang tanpa mempertimbangkan kegunaan barang tersebut yang pada akhirnya hanya menjadi tumpukan sampah. Hal ini perlu ditanggapi serius melihat daya dukung lingkungan berbanding terbalik dengan perilaku masyarakat yang semakin konsumtif. Dewasa ini, pengelolaan sampah belum dimaksimalkan sehingga menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Tidak banyak informasi yang bisa kita dapat untuk mengelola sampah yang sudah terlanjur terbuang. Padahal perlu kita tahu bahwa lahan semakin terbatas. Hal ini tidak mengherankan jika khususnya Indonesia menjadi negara penghasil sampah kedua terbanyak di dunia. Sejauh ini pola pembelajaran belum banyak mengarah ke solusi khusus untuk menanggulangi sampah yang kita hasilkan setiap hari. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian khusus agar masalah sampah dapat sedikit demi sedikit teratasi.

 

Sumber :

Sucipto, Cecep Dani. 2012. Teknologi Pengolahan Daur Ulang Sampah. Gosyen Publishing : Yogyakarta.

http://print.kompas.com/baca/opini/duduk-perkara/2016/04/29/Air-Sungai-di-Indonesia-Tercemar-Berat

 


Fatal error: Maximum execution time of 30 seconds exceeded in /home/ptssecoi/public_html/system/libraries/Session/drivers/Session_files_driver.php on line 263