Home / Berita & Blog / BLOG PT SSE

Tahukah Kamu?

08 Okt 2018 - 571
Tahukah Kamu?

Popok menjadi kebutuhan bagi sebagian ibu dan anak setelah kebutuhan susu formula. Hal ini diiringi dengan penelitian AC Nielsen dimana kebutuhan popok meningkat setiap tahunnya. Terdapat 6 miliar popok bayi yang diproduksi di Indonesia setiap tahunnya. Hal ini tentu saja akan berbanding lurus dengan sampah popok yang dihasilkan. Berikut ini beberapa data terkait dengan jumlah sampah popok yang mencemari lingkungan

  • Badan Pusat Statistik, tahun 2013 terdapat 1,5 juta lebih popok dibuang di Sungai Brantas setiap harinya

  • The Guardian, sebanyak 20 miliar popok sekali pakai dibuang di Inggris dan Amerika setiap tahunnya

  • Riset Bank Dunia tahun 2017, popok menjadi penyumbang sampah terbanyak kedua di laut, yaitu sampah organik 44%, sampah popok 21%,  tas plastik 16%, sampah lainnya 9%, sampah pembungkus plastik 5%, beling kaca metal 4% dan sampah botol plastik 1%.

  • Ecoton 2017, Sungai Brantas menjadi tempat pembuangan sampah popok, terdiri dari sampah popok bayi 98%, popok dewasa 1,9% dan sisanya pembalut wanita.

Dengan adanya data di atas, terdapat dampak serius yang dihasilkan dari sampah popok tersebut. Dampak serius yang dihasilkan berasal dari bahan baku penyusun popok yang 50% merupakan plastik, absorben, gel, pelembut,phthalate , pewangi, dan pemutih yang dikategorikan sebagai senyawa pengganggu hormon. Berikut penelitian dari Ecoton pada tahun 2017-2018 mengenai dampak sampah popok:

  • Ikan di Sungai Brantas 80% betina dan 20% adalah jantan. Perbandingan yang seharusnya jika ekosistem sehat adalah 50:50. Namun di bagian hulu sungai, ditemukan ikan yang mengalami interseks atau dalam tubuh terdapat dua kelamin

  • Didalam lambung ikan terdapat 80% fragmen plastik dan fiber plastik yang merupakan bahan popok

  • Kualitas air minum bagi warga sekitar yang kurang baik sehingga diperlukan penambahan bahan kimia kaporit untuk menjernihkannya.

  • Bahan baku penyusun popok 99% merupakan B3

  • Pencemaran lingkungan juga diakibatkan karena 85% penggunaan popok sekali pakai yang dibuang tanpa membersihkan dahulu kotoran yang menempel