Home / Berita & Blog / BLOG PT SSE

Teknologi Pengolahan Sampah

21 Des 2017 - 1943
Teknologi Pengolahan Sampah

Tahun 2016 terdapat 65 juta ton sampah per harinya yang diproduksi masyarakat Indonesia. Beberapa  faktor yang mempengaruhi pertambahan sampah di kota-kota besar yaitu pertambahan penduduk, peningkatan aktivitas di kota-kota besar, juga pola konsumsi masyarakat, dan minimnya tingkat kesadaran masyarakat, pemerintah dan produsen untuk usaha mengolah sampah yang dihasilkan dengan metode 3R. Oleh sebab itu ada beberapa upaya yang mendukung pengolahan sampah menggunakan teknologi yang tepat guna dari masa ke masa, diantaranya:

  1. Pengolahan sampah awalnya dilakukan dengan landfilling pada sebuah TPA. Landfilling merupakan pengurugan yang dilaksanakan dengan open dumping, sanitary landfill, dan controlled landfill. Teknologi landfilling yang tradisional membutuhkan lahan luas karena memiliki kemampuan reduksi volume sampah secara terbatas. Sistem pengolahan sampah ini juga mengakibatkan permasalahan lingkungan seperti adanya bau tidak sedap, tercemarnya air tanah, timbul asap dan lain-lain. Padahal persoalan yang dihadapi oleh sebagian kota adalah keterbatasan lahan dan lingkungan yang padat. Pada akhirnya metode landfilling dianggap juga sebagai penyebab pencemaran lingkungan ketika isu pemanasan global mulai muncul di masyarakat. Landfill menghasilkan emisi gas metan, gas yang dianggap mempunyai potensi memberikan kontribusi terjadinya efek rumah kaca sebesar 21 kali gas CO2. Sehingga landfill dianggap sebagai sumber utama gas rumah kaca dari kegiatan pengelolaan limbah.
  2. Pemerintah Indonesia sudah menerapkan konsep 3R yaitu Reduce, Reuse dan Recycling. Konsep ini merupakan pendekatan yang dilakukan dengan mengurangi sampah dari sumbernya sampai di akhir. Sampah Indonesia memiliki komposisi 60% sampah organik dan 14% sampah plastik, 9% sampah kertas, dan sisanya yaitu logam, karet, kain, kaca, dan lainnya. Indonesia dikatakan sebagai negara peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut. Sehingga diperkirakan 2019 akan mencapai 68 juta ton sampah yang terdiri dari 9,52 juta ton atau 14% adalah sampah plastik. Pengolahan sampah dilakukan dengan cara daur ulang dan pemakaian kembali sampah yang dapat digunakan. Teknologi pemisahan dan pemilahan sampah dilakukan untuk metode daur ulang dan menjadi kunci bagi metode pengolahan sampah melalui 3R.
  3. Sebagian besar sampah yang dihasilkan di Indonesia yaitu sisa-sisa makanan yang mudah membusuk. Sehingga masyarakat mulai mengembangkan metode pengomposan dan bigasifikasi. Pengomposan dapat dilakukan oleh semua lapisan masyarakat baik di desa maupun di kota. Pengomposan yang sering dilakukan yaitu secara aerobik karena mempunyai kelebihan tidak menimbulkan bau, waktu lebih cepat, menggunakan temperatur tinggi sehinga bakteri patogen dan telur lalat hilang sehingga kompos bersifat higienis.
  4. Semakin lama hasil sampah yang dihasilkan tentunya akan semakin bertambah, dan upaya masyarakat serta pemerintah pun semakin bertambah untuk menanggulangi permasalah ini. Kebijakan pemerintah mengenai penuntasan sampah dari sumbernya mulai didukung oleh teknologi yang mampu mengolah sampah menjadi nilai yang tinggi manfaatnya. Tidak sedikit sampah yang ternyata dapat menjadi sumber bahan baku atau energi untuk bumi. Salah satu teknologi pengolah sampah menjadi nilai yang bermanfaat yaitu teknologi pirolisis. Seperti yang dilakukan oleh PT Sukses Sejahtera Energi dalam mengolah sampah ban bekas menjadi minyak dan carbon black. Teknologi pirolisis sudah dilakukan di beberapa negara untuk mengolah limbah. Pirolisis bekerja dengan mendekomposisi ban bekas dengan pemanasan tanpa atau sedikit oksigen. Teknologi ini dikenal ramah lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi yang tinggi. Hasil dari pengolahan sampah ini dapat digunakan sebagai bahan bakar industri kembali.